JENAWI | Langsa, Aceh – Pascabanjir besar yang melanda Kota Langsa sejak 26 hingga 30 November 2025, masyarakat kini menghadapi situasi pelik yang berlapis. Selain genangan yang merendam rumah hingga setinggi dada, warga harus bertahan tanpa bantuan, pasokan terbatas, serta kelangkaan BBM yang memaksa mereka mengantri berjam-jam.
Di sejumlah SPBU, antrean warga mengular sejak dini hari. Banyak yang datang dari pagi, namun baru mendapatkan BBM menjelang siang.
Seorang warga Langsa menuturkan pengalaman panjangnya mengantri.
"Yang pertama datang jam 6 pagi, dapat BBM jam 1 siang. Yang kedua antre di SPBU Sidodadi jam 5 pagi, dapat jam 9. Ini yang ketiga, antre dari setengah 7… kayaknya siang juga baru dapat," ungkap warga Gampong Jawa yang tak ingin disebut namanya ketika dikonfirmasi media pada Rabu (3/12).
Keluhan warga tidak berhenti pada kelangkaan BBM. Beberapa pedagang disebut memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan.
"Kalau SPBU tetap sama. Kalau pedagang eceran, 100 ribu… memanfaatkan situasi bencana malah cari untung," ujarnya lagi.
Bertahan Tanpa Bantuan, Mengungsi dengan Peralatan Seadanya
Menurutnya, banjir yang merendam kawasan Kampung Jawa hingga sepinggang membuat keluarganya terpaksa mengungsi ke masjid.
"Ane ngungsi di mesjid Gampong Jawa hari Kamis. Masih tinggi air. Pejabatnya aja tak nampak," ujarnya.
Ia mengaku tidak menerima bantuan apa pun selama bencana berlangsung.
"Tanggal 26–30 itu tidak ada bantuan! Posko tidak ada. Kami di Langsa berjuang sendiri tanpa bantuan pokok," tegasnya.
Kondisi listrik dan jaringan juga sempat terputus. PLN padam sejak Rabu pagi, sementara jaringan internet mati sekitar pukul 13.00 siang. Malam hari menjadi gelap total.
"Kami nggak ada kabar apa-apa dari luar mulai tanggal 26 sore. Gelap kali malam… PLN padam," tambahnya.
Perjuangan Melintasi Banjir dengan Anak di Pelukan
Ia juga menceritakan bagaimana ia harus membawa anaknya menembus banjir demi mencapai tempat mengungsi.
"Ane bawa anak sama orang tua melintas banjir sampai ke Masjid. Air sepinggang," katanya.
Selain rumah yang terdampak, dua sepeda motor dan satu mobil miliknya juga ikut terendam.
"Sepeda motor ane dua tenggelam. Mobil kijang terendam," ujarnya.
Harga Melonjak, Persediaan Menipis
Dengan akses jalan terhambat, pasokan bahan pokok dan BBM terputus. Harga kebutuhan melonjak tajam.
"Apa yang ada lah. Indomie, beras. Harga pada naik semua," keluhnya lagi.
Ia menyebut hampir seluruh wilayah Aceh terkena dampak bencana, sehingga distribusi makin terhambat.
Meski kondisi sulit, ia berharap kota segera pulih.
"Moga kondisi segera normal kembali," tutupnya.
---
Krisis pascabanjir di Langsa menunjukkan betapa rentannya warga ketika menghadapi bencana tanpa kesiapan sistem tanggap darurat yang memadai. Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga kepastian, kehadiran pemerintah, dan perencanaan mitigasi yang lebih kuat agar tidak kembali terpuruk setiap kali bencana datang.

Komentar
Posting Komentar